Sabtu (31/03) Mahasiswa Jurusan Sejarah FIS UNP 2016 mengadakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ke Bengkulu dengan tema “ Studireis naar bumi rafflesia, western influence”. Kegiatan ini selalu rutin dilakukan oleh mahasiswa sejarah untuk memenuhi mata kuliah wajib jurusan.

Dalam laporannya ketua pelaksana, Febry Oktariano mengatakan KKL ini di ikuti oleh 125 peserta serta 7 dosen pembimbing menggunakan 3 buah bus pariwisata, kegiatan ini dilaksanakan selama 4 hari dengan menelusuri objek-objek sejarah kolonial yang ada di provinsi Bengkulu dalam rangka memenuhi tugas akhir mata kuliah Sejarah Indonesia Zaman Pengaruh Barat.

 

Pada hari pertama Mahasiswa Jurusan Sejarah FIS UNP angkatan 2016 melakukan pelepasan KKL di lapangan SMK Pembangunan bersama dengan Ketua Jurusan Sejarah FIS UNP, Dr. Erniwati, SS, M.Hum dalam pembukaannya beliau mengatakan KKL ini dilaksanakan untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Sejarah Indonesia Zaman Pengaruh Barat, diharapkan semua peserta enjoy dijalan, serap semua ilmu yang didapatkan selama di Bengkulu yang sering disebut sebagai Bumi Rafflesia, jaga kekompokan dan paling penting jaga kesehatan selama perjalanan”.

KKL ini dilaksanakan selama 4 hari, dan pada hari pertama dilakukan kunjungan ke 5 tempat dihari yang sama. “ KKL ini dilakukan pertama kali di rumah pengasingan Soekarno, lanjut rumah Ibu Fatmawati

 

 

Lalu ke Museum Bengkulu dan terakhir ke Makam Inggris, disini banyak terdapat informasi yang bisa didapatkan untuk sejarah yang berkaitan dengan pengaruh koloni Inggris di Indonesia” ujar Aulia Tiara Rosida yang merupakan salah satu panitia dalam   KKl kali ini. Pelepasan ini diresmikan tepat pukul 11.00 WIB oleh Ketua Jurusan Sejarah FIS UNP.

 

 

Keesokan harinya, Minggu (1/04) jam 05.00 WIB, barulah peserta sampai di Mesjid AT-TAQWA Bengkulu untuk berbenah diri dan istirahat sejenak, setelah itu kegiatan dilanjutkan mengunjungi rumah pengasingan Soekarno dan rumah fatmawati, peserta melakukan penelitian dengan dipandu oleh seorang tour guide, peserta dibagi kedalam beberapa kelompok yang sebelumnya telah ditentukan, disana peserta melakukan wawancara kepada pemandu wisata dan juga masyarakat setempat bagaimana sejarah tentang kedua rumah tersebut, setelah itu peserta mengambil foto untuk barang-barang peninggalan dan juga dokumentasinya.

 

Kemudian kegiatan dilanjutkan ke Museum Bengkulu, di museum peserta disambut oleh alumni sejarah UNP yang dulunya bernama IKIP Padang, disini kelompok mencatat semua informasi yang diberikan dan peninggalan-peninnggalan yang ada di museum serta mengambil dokumentasinya. Setelah selesai dari museum peserta beserta dosen meninggalkan Museum dan menuju ke hotel Grage Horizon yang berlokasi dekat dengan objek wisata Pantai Panjang. Setelah sampai, para peserta langsung menuju ke kamar masing-masing untuk beristirahat dan melakukan kegiatan pribadi.

Setelah Ishoma tepatnya jam 14.00 WIB, kegiatan dilanjutkan menuju Makam Inggris, disana peserta melakukan penelitian dengan mewawancarai masyarakat setempat dan juga juru kunci dari makam Inggris tersebut, “makam Inggris saat ini hanya berfungsi sebagai tempat objek wisata peninggalan Inggris tidak untuk umum, namun masih banyak pengunjung yang datang baik dari domestik bahkan pengunjung Internasional yang bermaksud untuk melakukan penelitian dan berwisata atau bahkan berziarah ke makam keluarga mereka yang dimakamkan dimakam tersebut” ungkap ibu Neti sebagai juru kunci makam Inggris.

 

 Kemudian kegiatan dilanjutkan menuju objek utama dari KKL yaitu benteng Fort Marlborough (1713-1719) yang merupakan benteng peninggalan kolonial Inggris di Bengkulu, pada penelitian ini peserta diberi tugas untuk mencari informasi sejarah berdirinya benteng, gambaran geografis benteng, dan pentingnya benteng dari masa kolonial Inggris hingga saat ini bagi RI.

 

 

Waktu yang diberikan kepada peserta lebih banyak dilokasi ini dari pada tempat objek peninggalan lainnya, selain tempatnya yang luas juga diharapkan banyak informasi yang bisa didapatkan. Para peserta sangat menikmati proses pembelajaran dilokasi dan tidak lupa untuk mengabadikan setiap moment-moment disetiap lokasi. “Benteng Fort Malborough yang didirikan sejak tahun 1713 memiliki keunikan tersendiri, selain tempatnya yang luas,  bentuknya sangat tertata, letaknya yang strategis serta masih sangat kokoh hingga saat ini, banyaknya meriam-meriam yang masih terawat berjejer menghadap kelaut dan dikelilingi oleh parit ring, sangat berbeda dengan benteng yang berada di Sumatera Barat” ungkap Sri Rahayu Monica salah satu peserta KKL. Sore harinya peserta kembali menuju ke hotel dan beristirahat, malamnya peserta berangkat menuju jalan Soekarno untuk membeli oleh-oleh untuk keluarga dan kerabat tercinta, disana banyak toko-toko yang berjualan oleh-oleh khas Kota Bumi Rafflesia.

Esoknya, Senin (02/04) para peserta melakukan senam pagi bersama dan juga mengadakan outbond yang bertujuan untuk lebih mengakrabkan diri antar sesama peserta dan juga dosen, setelah itu mereka melakukan Chek-Out dari hotel, setelah Check-Out para peserta kembali ke Padang.

 

 

Namun sebelum itu mereka mendapat kesempatan untuk mengunjungi Rumah Raffles yang saat ini digunakan sebagai kantor sekaligus rumah dinas Gubernur Provinsi Bengkulu, disana peserta dan dosen berkesempatan berbincang dengan staff  kegubernuran tentang sejarah berdirinya rumah Raffles hingga fungsinya saat Raffles masih menjabat sampai saat ini yaitu sebagai rumah dinas Gubernur Kota Bengkulu.

Setelah itu, peserta menuju ke lokasi irigasi peninggalan kolonial Inggris di Argamakmur, disana peserta mendapatkan informasi dari lurah setempat tentang tempat irigasi tersebut. Setelah itu beberapa alumni Sejarah IKIP Padang mengantarkan peserta kembali ke Kota Padang. Selasa (03/04) peserta KKL yaitu Mahasiswa Jurusan Sejarah FIS angkatan 2016 UNP beserta dosen pembimbing menyempatkan diri untuk singgah refreshing sejenak di Objek wisata Pantai Carocok di kota Painan, pada saat itu saya berkesempatan bertanya kepada salah satu dosen pembimbing yaitu Bapak Rhido Bayu Yefterson, M, pd tentang kesan dan pesan beliau terhadap KKL ini. Beliau mengatakan “ KKL ini diharapkan memberikan pengalaman langsung dari situs-situs peninggalan sejarah yang berhubungan dengan materi perkuliahan yang dibahas dikelas, harapannya agar mahasiswa menjadi calon pendidik dalam pembelajaran sejarah yang mampu mentransformasikan nilai-nilai positif dimasa lalu kepada peserta didik untuk membangun karakter positif yang berhubungan dengan perjuangan masa lalu dalam membangun Republik Indonesia ini. Selain itu, peninggalan sejarah merupakan identitas kita sebagai bangsa yang mendapatkan kemerdekaan melalui perjuangan, penghargaan terhadap peninggalan itu mesti dimiliki mahasiswa, menumbuhkannya melalui kunjungan langsung ke lapangan”. Kemudian peserta kembali melanjutkan perjalanan menuju kota Padang. Para peserta sangat menikmati setiap moment selama perjalanan menuju ke Bengkulu hingga kembali ke Padang, banyak pengetahuan, pengalaman yang didapatkan di kota Bumi Rafflesia dan juga lebih mempererat rasa kebersamaan dan kekompakan antar peserta beserta dosen pembimbing. Peserta sampai di Padang jam 17.00 WIB dan rangkaian KKL ini ditutup oleh sekretaris jurusan Sejarah Dr. Ofianto. M, pd. (Maya Syafira Assyfa’16)